Artikel Riset

Halaman yang memuat kumpulan artikel riset produk-produk Anannda, baik itu Ananndapers, Anannda Belt, Anannda Bag, Anannda Wrap, Anannda Breastpad, Anannda Menspad, Anannda Nursing Cover dan lainnya.

BERHEMAT DENGAN ANANNDAPERS: Cukup Satu Setengah Tahun Saja Pemakaian Clodi!.

 

Sejak lahirnya putra ketiga kami, Aji, kami sudah meniatkan untuk tidak akan pernah membelikan pampers sekali pakai untuknya. Berbeda dengan kedua kakaknya dimana kadang-kadang kami masih menggunakan pampers sekali pakai untuk kebutuhan darurat seperti saat bepergian. Kami mengerti, bahwa bagaimanapun juga Ananndapers tidak seperfek pampers sekali pakai. Selalu ada resiko spill over lewat lingkar paha jika pipis Aji sudah lebih dari tiga kali. Maklum, ASI-nya nonstop sepanjang hari tanpa pernah istirahat minum lebih dari tiga jam!

 

Kali ini kami benar-benar hendak menguji hipotesa penting: “Apakah penggunaan cloth diapers mampu secara signifikan mempercepat proses belajar anak untuk menahan pipis dan kemudian pipis pada waktunya di kamar mandi?”. Kebetulan anak pertama kami dahulu belum mengenal Ananndapers, dan baru benar-benar berhenti ngompol di malam hari setelah berumur 5 tahun! Kami ingat masa-masa itu, dimana kami mulai kerepotan mencari pampers berukuran super besar untuk anak saya. Sekali saja kami teledor saat itu, sama dengan mencuci semua seprei dan menjemur kasur dua hari penuh untuk membersihkan bekas ompolannya. Benar-benar kerja keras hanya untuk masalah yang terlihat sepele!

 

Sampai saat ini, masih belum ada riset ilmiah yang membuktikan secara sistematis, bahwa penggunaan cloth diapers mampu melatih kemampuan toilet training jauh lebih cepat dibanding pospak atau diapers sekali pakai!

Tatihnya Indah: Mau Belajar Berjalan Berkat Anannda Baby Walker

 

Tatihnya Indah: Mau Belajar Berjalan berkat Anannda Baby WalkerTak terasa sudah sebulan ini Rini (6), putri kecilku, memiliki seorang ‘adik’ bernama Indah. Ade Indah--akhir Oktober nanti genap 1 tahun—sebenarnya adik sepupu Rini. Indah numpang lahir di Bandung dan menghabiskan tahun pertamanya di Jakarta. Orangtuanya memutuskan kembali ke Bandung, mengais segenggam berlian di sini, meninggalkan kemilau emas mengambang di sana.

 

Saat pertama kali bertemu dan menggendongnya, Indah tampak seperti peri kecil yang patah sayapnya. Matanya bulat cemerlang menatapku sayu seakan minta tolong. Ada apa dengan Indah? Di usianya yang 11 bulan—saat itu—Indah baru bisa merayap. Aku terkenang masa balita Rini. Kubuka kembali album tumbuh kembangnya di tahun pertama. Rini merayap di akhir 9 bulan, menginjak usia 10 bulan Rini mulai merangkak namun mundur ke belakang dan akhirnya ‘ngesot’—awalnya Rini merangkak sedikit lalu menemukan posisi nyaman dengan duduk sehingga kadang merangkak dengan posisi duduk—di akhir bulan ke 11. Rini  akhirnya bisa berjalan dengan sendirinya genap usia 1 tahun tanpa stimulus dari baby walker model Apollo. Kami mengikuti saran dokter anak kepercayaan kami  untuk tidak memakai alat bantu jalan beroda tsb sebab alat bantu semodel itu justru menghambat perkembangan anak di usia merangkak. Anak jadi bergantung pada alat dan  tidak bisa berjalan ajeg dengan telapak kaki menjejak sempurna, berjinjit malah.

Aku dan Mama Di Hari-Hari Sulit

 

Aku belajar jadi wanita dari mama, jelas saja karena mama role model pertama yang kukenal. Kalau diingat-ingat lagi, pertama kali aku mengalami menstruasi saat aku duduk di bangku SMP kelas 2 di tahun 87an. Pulang sekolah, aku kebelet pipis. Aku kaget melihat bercak darah di celana dalamku. Gugup aku keluar dari kamar mandi dan mba Inah yang kebetulan sedang rapih-rapih itu bertanya padaku,”Teteh kenapa? Koq pucat sekali?” Agak ragu kukatakan padanya bahwa aku “berdarah” sampai tembus ke celana dalam. Mba Inah langsung memeluk dan menciumku seraya berkata,”Aduuh…selamat yaaa…teteh udah gadis sekarang…”. Saat itu aku tidak mengerti makna dibalik ucapan kebahagiaannya namun terasa tulus dan menenangkan. Mba Inah meminta agar aku mengganti celana dalamku dan ia menyiapkan handuk tipis putih. Kalau diingat lagi sebenarnya handuk tsb biasa dipakai pelari atau tukang becak untuk menyeka keringat. Entah mba Inah mendapatkannya dari mana, namun ia mengatakan bahwa lipatan handuk tsb harus kupakai sebagai ‘duk’ untuk menampung darah menstruasiku.

 

Saat mama pulang dari tempat kerja, kukatakan padanya bahwa aku “sudah jadi gadis” seperti yang dikatakan mba Inah. Walau tanggapannya agak dingin-- tidak seperti mba Inah yang terharu berlinang air mata seraya memeluk serta menciumku—mama mengajariku soal menjaga kebersihan di daerah V dan membuatkanku tampon dari bahan yang lembut tapi bukan handuk. Aku diajari untuk mencuci tampon itu sampai bersih dan hilang bau amisnya. Aku memakai tampon cuci ulang itu hingga aku duduk di bangku SMA. Saat itu aku bersekolah di luar kota, mengejar sekolah favorit. Jarak yang cukup jauh dan jam belajar yang lebih lama tidak memungkinkan tampon yang kupakai di masa menstruasiku tetap aman melaksanakan fungsinya. Seringnya luber hingga tembus ke rok seragam abu-abu. Akhirnya mama menyarankan agar aku memakai pembalut sekali pakai, membekaliku keperluan itu sehingga bila telah penuh, aku diharuskannya mencuci hingga darahnya hilang dan bersih dan membuangnya ke tempat sampah lantas berganti dengan yang baru.

pakah Penggunaan “Diaper” Berbahaya

 

Para orangtua terkadang menanyakan apakah menggunakan diaper itu berbahaya? Sejauh mana hal itu akan mempengaruhi perkembangan anak termasuk keterampilan berjalan pada anak? Berjalan merupakan tahap perkembangan motor kasar pada anak yang acap kali menjadi perhatian para orangtua. Para orangtua beranggapan bahwa berjalan merupakan tahap perkembangan yang paling penting dan berhubungan dengan tingkat intelegensia anak. Ketika anak telah mencapai usai satu tahun dan anak belum bisa berjalan, banyak orang tua merasa khawatir.

 

Sebagian besar anak dapat mulai berjalan sendiri pada rentang usia antara 11-15 bulan dan batas akhir pencapaian perkembangan berjalan usia 18 bulan, tetapi kecepatan perkembangan pada setiap anak sangat bervariasi. Beberapa anak dapat mengalami keterlambatan dari waktu sesuai dengan rentangnya, tetapi pada akhirnya masih dapat berjalan secara normal. Seorang anak dikatakan terlambat berjalan jika pada saat usia 18 bulan, anak belum bisa berjalan.

 

Isu mengenai diaper dapat menyebabkan keterlambatan onset berjalan masih kontroversial. Dalam suatu penelitian, dinyatakan bahwa pemakaian diaper dapat mempengaruhi cara berjalan (gait) anak, langkah anak menjadi kecil, jarak antar kedua kaki menjadi lebar (untuk mempertahankan keseimbangan), dan anak memerlukan latihan yang ekstra dibandingkan dengan anak yang tidak memakai diaper.

Penelitian lain mengenai pengaruh diaper pada kelancaran anak dalam berjalan dilakukan terhadap 60 balita, 30 balita usia 13 bulan, 30 balita usia 19 bulan ketika sebagian besar sudah bisa berjalan. Diduga diaper menyebabkan gerakan kaki balita terbatas karena adanyamassa yang besar diantara kedua kaki, yang pada akhirnya menganggu pola berjalan ini diidentifikasi dengan mengukur lebar langkah, panjang, langkah serta sudut yang dibentuk dari 3 langkah yang berurutan.

Bunda, kembangkanlah talenta bisnismu sambil mengabdikan diri untuk kesehatan putra-putrimu, kebaikan keluargamu, dan keselamatan lingkunganmu, bersama ANANNDA. Telusurilah website kami. Anda akan menemukan aneka perlengkapan bayi, anak, ibu dan keluarga yang fungsional, inovatif, ramah lingkungan dan bermanfaat bagi kesehatan semua.

 

 Since 2009 CV. Anannda

 

Pengaduan Konsumen

 

Contact us

 

Kav. DPRD, Blok C-18A

Ciwaruga, Bandung 40559

 

Phone: (022) 2018091/081394021647

Email: admin@anakbunda.net